Tampilkan postingan dengan label mengatasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mengatasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Januari 2014

Mengatasi dan Menghilangkan KULIT WAJAH BERMINYAK

Mengatasi dan Menghilangkan KULIT WAJAH BERMINYAK berikut relatif mudah dilakukan kok. 
Ada yang bilang memiliki wajah berminyak membuat kita tidak mudah keriput. Tetapi kekurangan dari wajah berminyak justru membuat kulit terlihat mengkilap. Jika tidak mau wajah terlihat berminyak terus-menerus, simak cara merawatnya seperti yang dilansir dari Allure berikut ini.

Mencuci muka
Pilih sabun cuci muka untuk wajah berminyak. Kemudian mencuci muka dengan sabun tersebut dua kali dalam sehari.

Cara mengusap
Ketika wajah terlihat berminyak, gunakan kertas khusus penyerap minyak dengan cara menepuk-nepukkannya dengan pelan. Jangan mengusap karena Anda bisa iritasi atau hiasan make akan menjadi berantakan.

Tabir surya
Mengenakan tabir surya berlebihan bisa membuat wajah semakin tampak berminyak. Jadi batasi penggunaan tabir surya secukupnya jika akan keluar rumah.

Make up
Beberapa bahan make up, seperti foundation dan bedak, juga bisa digunakan untuk mengontrol minyak pada wajah. Pilih jenis bedak bubuk agar mampu menyerap minyak seperti spons.

Makanan
Beberapa makanan ternyata mempengaruhi produksi minyak pada wajah. Misalnya makanan pedas yang ternyata membuat wajah semakin terlihat berminyak.

Scrub
Setiap seminggu sekali, ada baiknya Anda merawat wajah dengan scrub, masker, atau peeling. Pilih produk yang sesuai dengan sensitivitas kulit atau gunakan bahan-bahan alami seperti buah-buahan untuk merawat wajah berminyak.

Krim malam
Beberapa perawatan wajah berminyak juga membutuhkan penggunaan krim malam. Sebab malam hari kulit juga bekerja untuk meregulasi kandungan air dan minyak pada wajah.



Itulah beberapa cara mengontrol Mengatasi dan Menghilangkan KULIT WAJAH BERMINYAK. 
Selamat mencoba 















Sabtu, 21 Desember 2013

Seramnya Mumi Jepang Cara Biksu Mengatasi Kelaparan

Mumi identik dengan Mesir, tapi ternyata Anda juga bisa melihatnya di Jepang. Kalau biasanya mumi diawetkan dengan dibalsem, tidak dengan yang ada di sana. Melihat dan mendengar ceritanya dijamin membuat Anda merinding.

Mumi milik Negeri Matahari Terbit ini biasa disebut dengan nama sokushinbutsu. Jika diartikan, sokushinbutsu berarti living Buddha.

 
Yang menarik, mumi ini tidak diawetkan dengan pembalseman. Mereka punya cara sendiri yang berbeda dan bisa membuat merinding.

Sebelum menjadi mumi, orang-orang ini adalah seorang biksu. Sepanjang hidupnya, mereka selalu melakukan pertapaan. Para biksu ini dilatih hanya bergantung pada air, kacang-kacangan, dan meditasi sepanjang hari. Otomatis, gaya hidup seperti ini membuat dirinya kehilangan berat tubuh.

Setelah dirasa telah siap untuk bertapa menuju sokushinbutsu, mereka dikubur di dalam kotak kayu untuk meditasi. Pertapaan ini pun berakhir pada kematian.

Diintip dari situs resmi pariwisata Jepang, setelah 1.000 hari sejak dikubur, peti para biksu ini akan digali oleh muridnya. Jika penampilan mereka tetap sama dan tidak ada perubahan, maka biksu ini akan diberi status sokushinbutsu.

Terdengar ngeri memang. Tapi ada alasan lain mengapa para biksu ini rela berbuat demikian. Salah satunya adalah untuk mengatasi kelaparan.

Saat itu di Jepang sedang terkena wabah kelaparan. Untuk membantu orang dari kemiskinan dan kelaparan, mereka pun berkorban dengan melakukan hal demikian.

Praktek sokushinbutsu yang telah ada sejak abad 11 hingga 19 ini telah dilarang oleh hukum. Alasannya karena kegiatan ini sama saja dengan praktek bunuh diri.

Sampai saat ini, mumi tersebut masih dianggap oleh beberapa penduduk setempat sebagai kami-sama. Kata yang biasanya diterjemahkan sebagai Tuhan atau Dewa.

Jika penasaran ingin melihatnya, turis bisa datang ke Prefektur Yamagata di utara Jepang. Ada sekitar 6 mumi yang tersimpan di kuil tersebut.

Salah satu yang paling terkenal adalah Ryusui-ji di Kuil Dainichibou di Kota Tsuruoka. Ini adalah mumi biksu Daijuku Bosatsu Shinnyokai-Shonin (1687-1783). Setelah 70 tahun hidup sebagai pertapa, ia menjadi Sokushinbutsu pada usia 96.

Mumi lainnya juga dapat dilihat di Kuil Nangaku-ji juga di Tsuruoka. Yang ketiga di Kuil Zoukou-in di Kota Shirataka, dan yang keempat di Kuil Kaikou-ji di Kota Sakata.






 


Sumber:
detik.

Selasa, 22 Oktober 2013

Mengenal Dan Mengatasi Penyakit Pada Ikan Lele

Hama dan penyakit pada budidaya lele menjadi salah faktor penentu keberhasilan bisnis ini. Menanggulangi penyakit lele merupakan salah satu upaya mekmaksimalkan budidaya lele. Meski pengetahuan dan cara menanggulangi penyakit pada budidaya lele cukup penting terkadang diabaikan oleh peternak lele, apalagi jika usaha lele ini hanya menjadi usaha sampingan atau bisnis skala usaha kecil. Banyak kejadian lele tiba-tiba mati mendadak dalam jumlah besar atau satu per satu mati dan akhirnya tidak bisa panen. Pertanyaan dan keluhan mengenai cara mengatasi penyakit pada ikan lele cukup sering kita dengar sehingga penting bagi para pembudidaya lele untuk memiliki pengetahuan di dalam hal ini. Hama ikan Lele ukuran besar nampak secara kasat mata misalnya kucing, ular, Linsang. Untuk lele bibit di sawah hama lele bisa datang dari kodok, Ucrit dan burung pemakan ikan dan hewan-hewan lain. Penyakit pada ikan lele biasanya disebabkan oleh mikroorganisme yang tidak kasat mata.

Penyakit pada ikan lele cukup beragam dan memerlukan penanganan yang berbeda-beda tergantung jenis penyakitnya. Untuk mengetahui jenis penyakit apa yang menimpa ikan lele peliharaan kita, bisa dilihat dari gejala-gejala luar ikan lele. Meski lele termasuk ikan yang tahan hidup dalam air yang berkualitas buruk, tetapi sanitasi air memegang peranan penting dalam menunjang kesehatan lele.

Penyakit pada ikan lele biasanya disebabkan oleh mikroorganisme yang bersifat parasit yang hidup pada tubuh ikan lele, mikroorganisme ini biasanya berupa virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil. Beberapa penyebab penyakit pada ikan lele antara lain:

1. Penyakit karena Bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas hydrophylla

Bentuk bakteri ini seperti batang dengan cambuk yang terletak di ujung batang, dan cambuk ini digunakan untuk bergerak. Ukurannya 0,7-0,8 x 1-1,5 mikron.

Gejala Lele Terserang Bakteri ini : warna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan. Lele bernafas megap-megap di permukaan air.

Pencegahan: lingkungan harus tetap bersih, termasuk kualitas air harus baik.
Pengobatan: melalui makanan antara lain pakan dicampur Terramycine dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7-10 hari berturut-turut atau dengan Sulphonamid sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3-4 hari.

2. Penyakit tuberculosis yang disebabkan bakteri Mycobacterium fortoitum

Gejalanya: tubuh ikan berwarna gelap, perut bengkak (karena tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan limpa). Posisi berdiri di permukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dan sirip.

Pengendalian: memperbaiki kualitas air dan lingkungan kolam.
Pengobatan: dengan Terramycin dicampur dengan makanan 5-7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5-15 hari.

3. Penyakit karena Jamur/Cendawan Saprolegnia.

Penyebab: jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan yang kondisinya lemah.

Gejala: ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas.

Pengendalian: benih gelondongan dan ikan dewasa direndam pada Malachyte Green Oxalate 2,5-3 ppm selama 30 menit dan telur direndam Malachyte Green Oxalate 0,1-0,2 ppm selama 1 jam atau 5-10 ppm selama 15 menit.

4. Penyakit bintik putih dan gatal (Trichodiniasis)

Penyebab: parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadang-kadang amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebut Ichthyophthirius multifilis.

Gejala:
(1) ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di permukaan air;
(2) terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan insang;
(3) ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding kolam.
Pengendalian: air harus dijaga kualitas dan kuantitasnya.

Pengobatan: dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada campuran larutan formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green Oxalate 0,1 gram/m3 selama 12-24 jam, kemudian ikan diberi air yang segar. Pengobatan diulang setelah 3 hari.

5. Penyakit cacing Trematoda

Penyebab: cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Cacing Dactylogyrus menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus menyerang kulit dan sirip.

Gejala: insang yang dirusak menjadi luka-luka, kemudian timbul pendarahan yang akibatnya pernafasan terganggu.

Pengendalian:
(1) direndam formalin 250 cc/m3 air selama 15 menit;
(2) Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam;
(3) menyelupkan tubuh ikan ke dalam larutan Kalium Permanganat (KMnO4) 0,01% selama ±30 menit;
(4) memakai larutan NaCl 2% selama ± 30 menit;
(5) dapat juga memakai larutan NH4OH 0,5% selama ±10 menit.

6. Parasit Hirudinae

Penyebab: lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan.

Gejala: pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga menyebabkan anemia/kurang darah.

Pengendalian: Selalu diamati pada saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm.
Apabila lele menunjukkan tanda-tanda sakit, harus dikontrol faktor penyebabnya, kemudian kondisi tersebut harus segera diubah.

Penyakit yang menimpa ikan lele biasanya terjadi karena lingkungan air yang tidak baik, misalnya tercemar oleh zat-zat berbahaya, kepadatan tebar yang terlalu besar dan perubahan suhu yang drastis. Pada kondisi demikian daya tahan ikan lele menurun dan mudah terserang penyakit. Penyakit pada lele bisa juga berasal dari bibit lele sudah membawa penyakit dari asalnya, hanya belum menunjukkan gejala sakit saat ditebar. Untuk itu perlu berhati-hati dalam memilih bibit lele. Cara lain mengatasi penyakit ikan lele adalah mengkarantina ikan lele sakit pada kolam karantina yang diberi garam ikan, selain dengan pengobatan-pengobatan tersebut. (Galeriukm).

Sumber : http://galeriukm.web.id/unit-usaha/perikanan/mengenal-dan-mengatasi-penyakit-pada-ikan-lele